Tudingan Diktator Anti-Islam dan Serangan Balik Jokowi

49 views

Satu minggu terakhir Presiden Joko Widodo terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan untuk menjawab tuduhan terbuka yang diarahkan kepadanya atau pemerintah.

Jokowi melancarkan serangan balik atas tuduhan yang dikemukakan secara terbuka baik oleh tokoh politik maupun yang beredar di media sosial, mulai dari diktator hingga anti-Islam.

Direktur Eksekutif PolcoMM Institute Heri Budianto berpendapat, wajar apabila Jokowi kerap menyinggung soal tudingan kediktatoran.


“Ini upaya presiden mengonter (melawan) serangan kepada pemerintah. Ia ingin mengatakan, ia tidak seperti yang disampaikan berbagai macam tokoh,” ujar Heri kepada CNNIndonesia.com.

Perlawanan ini pertama kali dilayangkan Jokowi sehari setelah pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.


SBY, usai pertemuan, menyatakan bahwa kedua ketua partai itu siap mengawasi pemerintah dan memastikan pemegang kekuasaan tidak bertindak melampaui batas kewenangan.

Setelah itu, Jokowi berulang kali menyatakan tak ada kekuatan absolut di Indonesia hingga melontarkan pertanyaan retorik kemungkinan dirinya seorang diktator apabila melihat raut muka.

Heri berpendapat, Jokowi mengeluarkan pernyataan bantahan itu dengan menyasar kepada publik dan bukan tokoh atau elite politik tertentu.

“Saya kira kepala pemerintahan terusik dengan pernyataan itu. Maka presiden ingin mengklarifikasi terhadap itu. Tuduhan terbuka, kan masyarakat mendengar,” ucap pakar komunikasi politik ini.

Dia menilai bahwa klarifikasi berulang demi mencegah polemik karena jika didiamkan, tuduhan-tuduhan itu akan mempengaruhi penilaian publik kepada Presiden.

“Kalau tidak melakukan konter, secara komunikasi politik efek akan negatif,” kata Heri.

Klarifikasi anti-Islam

Terkait tudingan anti-Islam yang menghangat akibat perkara penistaan agama oleh Ahok dan sejumlah kasus hukum yang menjerat Ketua FPI RIzieq Shihab, Presiden Jokowi tidak hanya mengeluarkan pernyataan klarifikasi.

Jokowi meningkatkan intensitas pertemuan bersama tokoh-tokoh Islam yang dilakukan dengan mengundang ulama, pengurus pondok pesantren ke Istana Merdeka dalam beberapa bulan terakhir.

Selain itu, pertemuan dengan sejumlah ulama dan tokoh agama pun dilakukan saat Jokowi melakukan kunjungan kerja ke daerah.

Setiap pertemuan, disebut menjadi upaya meningkatkan kembali implementasi Pancasila dan kerukunan serta persatuan dalam keberagaman masyarakat.


Presiden Jokowi mengadakan acara dzikir kebangsaan bersama para ulama dan santri di Istana Merdeka. Presiden Jokowi mengadakan acara zikir kebangsaan bersama para ulama dan santri di Istana Merdeka. (ANTARA Foto/Puspa Perwitasari)


Pakar komunikasi politik Hendri Satrio sebelumnya menyatakan, hal itu dilakukan untuk meluruskan isu bahwa Presiden merupakan anti-Islam.

“Memperbaiki citra yang selama ini menghantam dirinya, berseberangan dengan Islam,” tutur Hendri.

Puncak upaya melawan isu pemerintah dan Jokowi anti-Islam adalah acara zikir nasional di halaman Istana Merdeka bersama lebih dari seribu ulama dan pengurus ponpes untuk menyambut bulan kemerdekaan.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/politik/20170810100312-32-233660/tudingan-diktator-anti-islam-dan-serangan-balik-jokowi/

KLIK DISINI untuk menuju ke sumber berita atau informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *