Tantangan dan Masa Depan Maker di Indonesia

86 views


Ikhtisar
  • Keberadaan maker mampu menciptakan inovasi dan solusi di bidang teknologi, meningkatkan pendidikan khususnya pada disiplin ilmu yang termasuk dalam STEAM (science, technology, engineering, art, mathematics).

Istilah maker pertama kalinya diciptakan oleh sebuah majalah asal Amerika Serikat, MAKE. Istilah tersebut hadir dari maraknya tren DIY atau do it yourself di AS.

Kehadiran perangkat-perangkat seperti Arduino, Raspbery Pi, dan printer 3D, memungkinkan orang untuk menciptakan produk DIY berbentuk hardware atau produk elektronik.

Kemudian, lahirlah Maker Movement, semacam gerakan yang diinisiasi MAKE dan para maker di AS untuk memfasilitasi dan menciptakan maker, terutama di ranah teknologi.

“Sederhananya, maker adalah orang yang membuat, yang menolak semata-mata menjadi konsumen saja. Dia tidak puas dengan solusi yang ada. Solusi di luar sana banyak, tapi yang tailor-made dan sesuai dengan yang saya inginkan, hanya saya yang bisa buat,” jelas Andri Yadi, founder dan CEO Dycode.

Maker untuk Indonesia

Sumber gambar: Pexels

Sumber gambar: Pexels

Jika di Amerika Serikat maker sudah menjadi tren bahkan diakui gerakan Maker Movement secara nasional, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait masa depan para maker.

Menurut Andri, Indonesia perlu menciptakan lebih banyak maker, terutama di industri hardware. Menurutnya, keberadaan maker dapat mendatangkan berbagai hal positif.

Selain berpeluang menciptakan inovasi atau terobosan solusi di bidang teknologi, keberadaan maker juga berpotensi meningkatkan pendidikan khususnya pada disiplin ilmu yang termasuk dalam STEAM (science, technology, engineering, art, mathematics).

“Potensi maker sebetulnya cukup baik. Kita punya pasar, kita punya human resource, konsumennya juga ada. Tapi mungkin kendalanya adalah tool, termasuk produksi massal tool yang diperlukan,” jelas Andri.

Tantangan para maker tanah air

Sumber gambar: Pexels

Sumber gambar: Pexels

Menurut Andri, menjadi maker yang menciptakan hardware bukanlah hal yang mudah. Banyak proses yang perlu dilakukan saat menciptakan perangkat hardware, dan diperlukan perhatian ekstra terhadap detail sekecil mungkin agar produk dapat berfungsi dengan baik.

“Kuncinya adalah iterasi (pengulangan), namun untuk hardware kadang diperlukan lebih banyak iterasi dan lebih sulit. Harus lebih berhati-hati karena tidak ada tombol undo dalam membuat hardware,” jelas Andri.

Selain prosesnya sendiri yang cukup rumit, kurangnya akses terhadap pengetahuan, best practice, dan tool bagi para maker untuk membuat hardware juga menjadi tantangan tersendiri.

Tidak hanya itu, tool yang diperukan maker agar dapat menciptakan hardware secara mandiri terkadang masih sulit diproduksi secara massal dan dengan harga yang terjangkau.

Agar dapat menghadapi tantangan-tantangan tersebut, Andri merasa Indonesia perlu lebih banyak komunitas atau gerakan maker yang dapat memfasilitasi para maker untuk berkarya.

Sumber gambar: Pexels

Sumber gambar: Pexels

“Untuk maker software, Indonesia punya cukup banyak developer. Tapi, maker hardware belum terlalu banyak. Pergerakannya juga belum ramai, masih perlu lebih terkoordinir dan banyak kolaborasi,” ujar Andri.

Tantangan lainnya untuk maker di Indonesia adalah, masih perlunya meningkatkan kesadaran orang terhadap maker. Apalagi, di Indonesia kebanyakan maker datang dari kalangan pelajar dan menjadi maker karena “terpaksa”.

“Mereka sebetulnya mau tidak mau jadi maker. Misalnya karena mengerjakan tugas atau skripsi. Kebanyakan mereka tidak sadar bahwa mereka adalah maker. Kita coba bangun kesadarannya, dan tolong, jangan berhenti. Jangan sampai begitu kuliahnya selesai, mereka juga berhenti menjadi maker,” ujar Andri. 

Bagaimana nasib maker di Indonesia?

illustration - hardware

Walaupun masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh maker di Indonesia, Andri yakin maker di Indonesia masih memiliki masa depan yang cukup cerah.

“Di Indonesia, tren maker masih dalam tahap awal, jadi masih akan terus berkembang. Apa lagi IoT sudah cukup populer dan bisa dibuat sendiri teknologinya. Kalau maker bisa memenuhi kebutuhan tersebut dengan hardware dan software, tentunya akan lebih baik lagi,” ujar Andri.

Andri berharap, maker di Indonesia bisa membangun sebuah gerakan nasional yang diakui oleh pemerintah. Ia juga memiliki harapan untuk dapat memperkenalkan maker di bidang elektronik ke usia dini. Misalnya, ke siswa SMP dan SMA.

“Dikemas seperti bermain sambil belajar saja. Karena, prinsip maker adalah bermain-main tapi memiliki tujuan yang jelas,” pungkas Andri.


Artikel ini merupakan bagian dari liputan Tech in Asia Product Development Conference 2017 yang berlangsung pada tanggal 9 dan 10 Agustus 2017. Ikuti seluruh liputannya di sini.

(Diedit oleh Septa Mellina; Sumber gambar: Pexels)

The post Tantangan dan Masa Depan Maker di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Sumber: https://id.techinasia.com/tantangan-masa-depan-maker

KLIK DISINI untuk menuju ke sumber berita atau informasi.

One thought on “Tantangan dan Masa Depan Maker di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *